Selamat Datang di Heru Site http://heru07.blogspot.com, silahkan tinggalkan pesan di buku tamu. dan jika ingin kirim-kirim salam lewat running teks ini silahkan berkunjung ke email saya, facebook, atau buku tamu terima kasih... ==> Pesan: - untuk nova hardiyani putri, miss u, nice selalu, ^_^ ===== mufari zuddien ngeri yo dapat A sidangnya hehehe... ====== buat sigit di kampung jangan lupa oleh2 nya ======= buat bowo doero, mantaplah ====== bang reza my brother, mantap slalu, mantap kan my blog brubah navbarnya ========= buat bang yudhi, salam salsa nya, hehehehe,,, smngat,,, ========= buat ivan juson, sandy, husni, jefri, atan, agunk, zein, dan sahabat2 lainnya yang gak disebut, sukses slalu ======= yuks mari ramai2 gabung di http://www.letthestory.com ===== buat pam yang udah koment di buku tamu thanks yo... ===== yang lainnya segera coment ya tinggalkan pesan, thanks...

Kamis, 25 Agustus 2011

Prinsip Ekonomi Telah Berbeda.

Bulan Ramadhan 1432 H ini kini sama halnya seperti Ramadahan sebelumnya ketika berbicara dalam masalah bahan pokok ataupun kebutuhan sehari-hari. Bagaimana tidak, hal itu ditandai dengan adanya kenaikan barang atau kenaikan bahan-bahan pokok mulai dari beras, minyak, cabai, daging, dan juga bahan pokok lainnya. Dah hal itu akan memicu barang-barang lain akan naik dengan sendirinya. Begitu naik, begitu juga diadakan operasi pasarnya yang bisa dibilang masih kurang efektif juga, tapi lumayanlah untuk sedikit perubahan. Yang paling dirugikan disini adalah kaum awam menengah kebawah. Bagaimana dia hanya bisa menerima dan membeli sebisanya dan tidak bisa komplen akan keadaan ini, karena sudah ada yang mengaturnya pejabat atas. Sudah upah perkapitanya yang ia terima dari apa yang ia dapatkan dari pekerjaan nya hanya segitu-segitu saja tidak ada upaya yang signifikan dari upahnya entah dalam bentuk kenaikan gaji atau lainnya. Yang paling membantu ketika lebaran mendapatkan THR atau bahan-bahan pokok yang bisa menunjang mereka mendapatkan kenikmatan setelah melaksanakan puasa.

Seperti pepatah yang diungkapkan di Negara kita “Yang miskin tambah miskin, yang kaya tambah kaya”, yah itulah sebuah perumpaan kenyataan hidup yang kita terima. Prinsip ekonomi disini telah berbeda, kapitalis mungkin bahasanya. Memperoleh keuntugan dengan sebesar-besarnya dengan memancing uang sekecil-kecilnya, artinya dalam kalimat tadi mengandung sebuah arti pemanfaatan. Disini yang menjadi target utama dalam ekonomi tersebut yah pastinya masyarakat kecil. Contohnya saja dalam hal penimbunan. Fatwa MUI menyatakan jika yang memakai premium itu adalah orang miskin, tetapi bagaimana ketika orang kaya membelinya dengan menyuruh orang miskin, dan dalam hal ini tidak membeli secara perliter tapi perdrum, mugkin untuk ditimbun atau dijual kembali. Gimana tidak jika kita ingin mengisi bensin untuk motor pernyataan gallon minyak premium habis. Sudah diborong maunya dalam lanjutan pembicaraannya.

Lain halnya lagi dengan beras, sebelum ramdhan beras cukup stabil harganya, tetapi ketika ramadhan kenapa harganya bisa naik. Dari mana sisi kenaikan harga bisa diambil, apakah ketika puasa petani tidak mau bekerja, juga mereka ambil cuti penuh?. Juga masalah daging ayam maupun sapi. Yang dahulu ketika tahun 1990-an harga nya mungkin hanya Rp. 1500 tetapi sekarang mengapa bisa menjadi Rp. 35000, dari mana asalnya. Sedangkan di Arab Saudi saja penjual ayam panggang dari tahun 1800-an sampai saat ini masih 1 riyal saja. Tetapi di Indonesia apalagi di bulan ramadhan bisa anjlok menjadi lebih tinggi dengan tambah Rp. 10.000 atau 20.000,- .

Siapa yang disalahkan dalam hal ini?, bisa dibilang dalam penjualan barang disini kan ada indikasi dimana ekonomi diIndonesia memakai azas manfaat. Ketika diperlukan permintaan naik harga naik, permintaan turun harga stabil. Terlalu tega pedangan yang kaya akan semakin kaya dengan penderitaan orang lain. Bisa dibilang disini yang mengusai perdagangan adalah kaum cipit. Tentu saja sangat menikmati hasilnya, kemudian agar tampak baik memberikan bantuan di klenteng-klenteng dengan memberikan bahan pokok kepada orang miskin sampai terinjak-injak ketika merebut bahan sembako yang mungkin bisa dinilai tidak seberapa dari dirinya, jika dinilai dari kaum menengah atas.

Hal ini tentunya akan membuat tingkat kejahatan di Indonesia akan meningkat. Dimana kekhilafan akan lebih menigkat. Bagaimana hari ini harus makan dan dapat uang misalnya Rp. 20.000 atau 10.000 dalam 1 hari untuk anak isterinya yang sudah kelaparan dirumah. Dengan meminta selain menjatuhkan harga diri juga belum tentu dikasih. Kemudianlah muncul indikasi yaitu tindak kejatahan merampok, copet, culik anak, mencuri, menipu, dan lainnya sebagainya. Sudah tahun ketahun menjadi sebuah tradisi bagaimana jika ramadhan banyak kejadian kejahatan, mulai dari motor hilang, penipuan, dan lainnya sehingga ketika ramdhan orang lebih berantisipasi. Itu semua ditandai dengan naiknya harga kebutuhan masyarakat, sedangkan pendapatan ia tidak naik-naik mulai dari zaman gak enak.

Dimana disini kerja pemerintah dan juga polisi. Yang tugasnya mungkin juga hanya meminta hak tapi tidak menjalankan kewajibanya dengan sekuat tenaga. Pihak journalist pun dengan tenangnya memperoleh banyak berita dengan banyak tingkat kejahatan.. Sudahlah cukup sampai disini saja ramadhan tahun ini yang menjadi seperti ini. Tidak untuk ramdhan 2 tahun berikutnya atau ramdhan tahun depan. Memang sulit untuk menyelesaikan masalah ini, tapi percayalah ketika korupsi, kolusi dan nepotisme sudah bisa diatasi dalam diri pribadi kita juga meningkatkan jiwa sosial kita tidak bisa melihat orang susah disusahkan dengan perbuatan kita maka hal ini akan bisa dihapuskan. Sudahlah para pejabat yang silau akan harta dan jabatan berhenti dari itu. Jika naik menjadi DPR atau presiden atau pejabat lainnya hanya karena ingin membalikan modal atau ingin mencari keuntungan atau untuk jabatan lebih baik anda bunuh diri saja dan menatap alam lebih baik di alam barzah sana. Kita membutuhkan pemimpin yang siap. Jika tidak siap, jangan mengaku siap untuk menjadi pemimpin. Semoga menyadari dan bermanfaat…!!! (hru)

0 komentar: